HomeProductsaffiliatesContact
  
Order status View Order Status Checkout Checkout Email Email store
Search our store   

Mesin Pellet Cibinong
PT.CansAgrinusa
021-879-144-67
021-879-102-59

Jual Tepung Ikan
Sultan
Hp:0812 3099 1231

 
 

IKANNILA DOT COM
LEMBAH HIJAU
LIPPO CIKARANG
JAWA BARAT

FENDY
HP: 081287976684

Email Us

Valid XHTML 1.0 Transitional

PRODUKSI BENIH IKAN NILA JANTAN DENGAN

RANGSANGAN HORMON METIL TESTOSTERON

DALAM TEPUNG PELET

Zulkifli Mantau

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara, Jalan Kampus Pertanian Kalasey Provinsi Sulawesi Utara

ABSTRAK

Tulisan ini manyajikan ulasan tentang teknologi menjantankan (maskulinisasi) benih ikan nila yang efektif, praktis, serta menguntungkan. Ikan nila sangat mudah memijah terutama inbreeding. Akibatnya, pertumbuhannya lambat dan benih yang dihasilkan berukuran kerdil. Untuk mengatasinya perlu dikembangkan budi daya ikan nila

secara tunggal kelamin (monosex culture), yaitu hanya memelihara ikan jantan. Selain itu ikan nila jantan memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dan dagingnya lebih empuk dibanding ikan nila betina. Benih jantan dapat diproduksi dengan menggunakan hormon androgen sintetis seperti metil testosteron (MT) dalam pakan larva.

Beberapa penelitian dan pengkajian di dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa aplikasi pakan berhormon metal testosteron untuk maskulinisasi benih ikan nila menghasilkan 9096% benih jantan. Hasil penelitian dan kajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara menunjukkan dosis hormon yang optimal dan aman adalah 15 mg MT/kg pakan. Hormon diaplikasikan pada tahap pembenihan maksimal selama 1 bulan. Penerapan teknologi maskulinisasi memberi keuntungan bersih Rp19.971.500/13 ekor induk/tahun, dengan B/C ratio 2,60, periode kembali modal setelah 13 induk betina memijah dan BEP Rp2.370.887/13 ekor induk/tahun. Untuk pembenihan nila tanpa maskulinisasi diperoleh keuntungan bersih Rp16.840.000/14 ekor induk/tahun, B/C ratio 2,50, periode kembali modal setelah 14 ekor induk betina memijah dan BEP Rp2.134.322/14 ekor induk/tahun.

Kata kunci: Ikan nila, pemberian pakan, metil testosteron, budi daya tunggal kelamin

 

 

Ikan nila sangat mudah memijah terutama inbreeding, karena ikan ini cepat matang gonad dan dapat melakukan pemijahan berkali-kali (Suyanto 1994; Guerrero III dan Guerrero 2004). Akibatnya pertumbuhannya menjadi lambat dan benih yang dihasilkan berukuran kecil sehingga tidak diminati konsumen. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dikembangkan alternatif budi daya dengan pemeliharaan ikan secara tunggal kelamin (monosex culture), yakni hanya memelihara benih ikan jantan, karena

pertumbuhannya lebih cepat, dagingnya lebih empuk, dan ukurannya lebih besar dibanding ikan betina (Suyanto 1994; Fitzsimmons 2004).

 

Terdapat beberapa cara untuk mengubah kelamin atau maskulinisasi ikan nila dan meningkatkan persentase individu jantan dalam populasi ikan tersebut, yaitu:

1)      memisahkan jantan dan betina dengan cara seleksi manual, namun cara ini kurang efisien karena boros waktu dan tenaga.

2)      melakukan kawin silang (hibridisasi) antarspesies. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, ilmuwan dari Israel menyatakan bahwa spesies hibrida unggul ikan nila yang dihasilkan dari kawin silang lebih condong memiliki jenis kelamin jantan. Namun cara ini kurang praktis dan memakan waktu lama untuk menghasilkan 100% ikan nila jantan (Fitzsimmons 2004),

3)      manipulasi kromosom, tetapi cara ini hanya dapat dilakukan oleh ahli genetik dan memakan waktu lama, serta memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dan biaya yang besar. Untuk tingkat petani, cara ini belum dapat diterapkan kecuali melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian yang sudah melakukan hal tersebut, 4) untuk mendapatkan benih jantan ikan nila secara cepat, akurat dan praktis dapat dilakukan dengan rangsangan hormone steroid seperti metil testosteron (MT). Aplikasinya dilakukan secara oral dengan pemberian dosis tertentu dalam pakan larva (Guerrero III dan Guerrero 2004).

 

Maskulinisasi dengan rangsangan hormon perlu memperhatikan umur ikan. Shapiro (1987) menyatakan bahwa semakin muda umur ikan, peluang terbentuknya kelamin jantan semakin besar, dan semakin tua umur ikan peluang perubahan kelamin betina ke jantan makin berkurang. Maskulinisasi pada ikan berumur 2 bulan (50 g) tidak akan berhasil karena pada saat itu organ kelamin sudah terbentuk sempurna. Oleh karena itu, maskulininasi sebaiknya dilakukan pada umur 7–10 hari setelah telur menetas dan maksimal pada umur 1719 hari (Suyanto 1994; Irfan 1996).

 

Tulisan ini bertujuan memberikan informasi terutama kepada petani ikan tentang teknologi maskulinisasi benih ikan nila secara efektif, praktis, dan menguntungkan. Diuraikan pula dosis dan durasi yang aman yang dapat menjadi acuan dalam penerapan teknologi ini di lapangan.

 

PEMBENIHAN IKAN NILA

Teknik produksi benih ikan nila jantan (maskulinisasi) berkaitan erat dengan proses awalnya yaitu pembenihan. Pembenihan dilakukan dengan memelihara seekor ikan nila jantan dan 3–5 ekor ikan nila betina dalam ruang pemijahan (kolam atau happa) berukuran 1 m2 (acuan standar). Ikan jantan berukuran ± 200 g/ ekor dan ikan betina ± 150 g/ekor, masingmasing berumur ± 4 bulan. Ruang pemijahan dilengkapi dengan bilahanbilahan bambu yang diatur rapat seperti pagar (Gambar 1) Ikan nila merupakan parental care fish, yaitu mengerami telur dan menjaga larvanya dalam mulut (Suyanto 1994; www.balitbang-sumut.go.id. 2004; Griffin 2004). Seekor induk betina dapat menghasilkan 1.000–1.500 ekor larva. Pada saat mengerami dan menjaga larvanya, induk betina menyendiri dan pada saat larva telah lepas dari asuhan induknya (± 7 hari), induk tetap dalam kelompoknya. Pemijahan dapat dilakukan pada kolam atau happa (jaring dari kawat nyamuk). Jika dalam satu kolam atau happa pemijahan terdapat 10 ekor betina yang mengeram, maka setelah 7 hari atau setelah induk dipindahkan akan tetap terdapat 10 kelompok larva di sudut dan pinggiran tempat pemijahan. Inilah salah satu cara mengetahui keberadaan populasi larva dalam tempat pemijahan.

 

PERLAKUAN PAKAN BERHORMON METIL TESTOSTERON

Masalah umum yang dihadapi dalam budi daya ikan nila adalah kemampuan reproduksi ikan yang tinggi, sehingga sukar diatur dan sering terjadi inbreeding. Akibatnya tingkat pertumbuhan ikan menjadi lambat sehingga diperlukan waktu yang lama untuk mencapai ukuran konsumsi, bahkan pertumbuhannya sering terhenti (stagnan). Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, jika ikan nila dipelihara secara campur kelamin (polysex culture) maka ikan dengan ukuran 50 g/ekor sudah mulai memijah, sehingga pertumbuhan menjadi lambat bahkan terhenti karena energinya terkuras untuk memijah dan mengerami telur (khususnya ikan betina), padahal ukuran

konsumsi atau siap jual adalah lebih dari 100 g/ekor. Untuk mengatasinya perlu dilakukan budi daya tunggal kelamin yaitu hanya memelihara ikan nila jantan. Benih ikan nila jantan antara lain dapat diproduksi dengan rangsangan hormon MT yang dicampur dalam pakan tepung pelet. Ada berbagai cara meracik pakan berhormon, salah satunya adalah yang dihasilkan Mantau et al. (2001) dengan menggunakan tiga dosis hormone berbeda yaitu 15, 25, dan 30 mg. Selanjutnya hormon dilarutkan dalam alcohol 95% masing-masing sebanyak 7,50; 12,50; dan 15 ml. Larutan hormon alcohol yang telah siap kemudian dicampur dengan 1 kg tepung pelet (sebagai acuan). Pakan berhormon dapat langsung diberikan kepada larva ikan nila atau disimpan

dalam kantong plastik tertutup dan dimasukkan ke dalam lemari es. Pakan tahan hingga 2 bulan. Pakan diberikan empat kali sehari dengan dosis 10% dari total bobot populasi per happa. Bobot populasi per happa diketahui dengan sampling sebanyak 10% dari total populasi pada penebaran awal yaitu 200 ekor larva per happa. Guerrero III dan Guerrero (2004) telah meneliti efek androstenedion (AD) dan MT pada larva dan benih ikan nila yang dijantankan. Dalam penelitian tersebut

Gambar 1. Pen/pagar tempat pemijahan induk ikan nila di kolam tanah. diuji tiga perlakuan dosis AD dan MT yaitu 0 (kontrol), 30 mg AD (AD-30), 50 mg AD (AD-50), 30 mg MT (MT-30), dan

50 mg MT (MT-50) per 1 kg pakan.

Pemeliharaan larva dilakukan dalam

happa selama 21 hari. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa bobot badan ratarata

larva tertinggi diperoleh pada

perlakuan 50 mg MT/kg pakan dan

terendah pada perlakuan 30 mg AD/kg

pakan. Namun survival rate (sintasan)

tertinggi dihasilkan perlakuan 30 mg AD/

kg pakan (Tabel 1).

Perlakuan androgen tidak memiliki

efek yang nyata terhadap pertumbuhan

dan sintasan benih ikan nila selama 21 hari

proses pengubahan kelamin. Sementara

itu, bobot badan rata-rata dari benih yang

diberi perlakuan AD berada pada kisaran

terendah dan tertinggi. Hal ini kemungkinan

disebabkan oleh faktor-faktor lain

di luar efek androgen (Guerrero III dan

Guerrero 2004).

Pertumbuhan dan sintasan benih

selama proses pengubahan kelamin

ditentukan oleh beberapa faktor, seperti

padat tebar, pemberian pakan, suhu, dan

kondisi lingkungan lainnya (Bocek et al.

1992 dalam Guerrero III dan Guerrero

2004). Jo et al. (1995) dalam Guerrero III

dan Guerrero (2004) melaporkan bahwa

perlakuan MT 5–25 mg/kg pakan memiliki

pengaruh yang lebih nyata dibanding

kontrol setelah periode pengubahan

kelamin. Diduga MT memiliki efek

anabolik terhadap ikan. Namun, Vera Cruz

dan Mair (1994) tidak menemukan

pengaruh yang nyata perlakuan MT 40

mg/kg pakan terhadap pertumbuhan dan

sintasan ikan nila selama pengubahan

kelamin.

Mantau et al. (2001) juga menyatakan

tidak ada pengaruh yang nyata perlakuan

MT 0, 15, 25, 30 mg/kg pakan terhadap

pertumbuhan harian dan mortalitas benih

ikan nila selama 28 hari periode pengubahan

kelamin yang dilanjutkan 28 hari

periode pemeliharaan atau pembesaran

benih, di mana pada tahap ini pakan

berhormon diganti dengan pakan tepung

pelet tanpa hormon. Rata-rata pertumbuhan

harian larva ikan nila selama 56 hari

pengubahan kelamin dan pembesaran

benih sebesar 8% bobot badan (bb)/ekor/

hari dengan mortalitas 3–4%/56 hari.

Irfan (1996) juga melaporkan tidak

terdapat pengaruh yang nyata perlakuan

MT terhadap pertumbuhan bobot mutlak

dan mortalitas benih ikan nila yang dijantankan.

Enam dosis hormon (10, 20, 30,

40, 50, dan 0 mg) yang masing-masing

dicampur dalam 200 g pakan tepung

pelet menghasilkan pertumbuhan bobot

mutlak ikan yang dipelihara selama 3

bulan sebesar 2,05–2,83 g/ekor dengan

pertumbuhan harian rata-rata 4,135,54%

bb/ekor/hari, dan mortalitas 16,60–58,86%.

Pertumbuhan harian benih ikan nila hasil

penelitian Irfan (1996) lebih rendah

dengan tingkat mortalitas yang lebih

tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian

Mantau et al. (2001).

Sementara itu hasil penelitian

Guerrero III dan Guerrero (2004) menunjukkan

rata-rata bobot badan dan

sintasan benih ikan nila yang dipelihara

selama 30 hari setelah pemijahan dengan

perlakuan MT lebih tinggi (MT-30: 5 g/

ekor dan sintasan 91%; MT-50: 6,50 g/

ekor dan sintasan 93%) dibanding kontrol

(bobot rata-rata 3 g/ekor dan sintasan

95%) maupun perlakuan AD (AD-30: 3,50

g/ekor dan sintasan 85%; AD-50: 3 g/ekor

dan hanya sintasan 70%). Namun,

sebenarnya titik berat penelitian maskulinisasi

adalah persentase pembentukan

individu jantan. Vera Cruz dan Mair (1994)

serta Mantau et al. (2001) tidak menemukan

pengaruh yang nyata perlakuan

hormon MT terhadap laju pertumbuhan

ikan nila.

Perlakuan rangsangan hormon MT

memberikan hasil rata-rata tertinggi

dibanding kontrol maupun perlakuan AD,

yaitu menghasilkan 96% jantan baik MT-

30 maupun MT-50 dengan sintasan 100%

dan bobot akhir rata-rata pada 75 hari

setelah pemijahan masing-masing 15,80

dan 18 g/ekor. Pada perlakuan AD,

persentase individu jantan hanya 74–

81% dengan sintasan 98–100% dan bobot

akhir rata-rata pada 75 hari setelah

pemijahan 15–16,20%. Larva ikan nila

yang tidak diberi rangsangan hormon

menghasilkan individu jantan 59%

walaupun sintasannya 100% dan bobot

akhir rata-rata pada 75 hari setelah

pemijahan 17,70 g/ekor (Guerrero III dan

Guerrero 2004).

Dari hasil penelitian tersebut

sebetulnya dosis hormon MT yang

digunakan terlalu tinggi sehingga

cenderung boros padahal persentase

benih jantan yang diperoleh rata-rata

hanya 96%. Di samping itu, dosis hormon

MT yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan

paradoxial effect, paradoxial

feminization atau efek berbalik (Harahap

1994 dalam Irfan 1996). Selain itu penggunaan

hormon yang berlebihan akan

menyebabkan ikan menjadi jantan

sebelum waktunya sehingga menghambat

pertumbuhan (Matty 1985).

Fenomena paradoxial feminization

dilaporkan oleh Haniffa et al. (2004)

sebagai akibat penggunaan dosis hormon

MT yang tinggi (400 ìg/l). Individu jantan

yang dihasilkan hanya mencapai 30%

sedangkan individu betina 70%. Dalam

penelitian tersebut digunakan ikan

Heteropneustes fossilis (Bloch) atau

catfish, di mana telur-telur ikan dicelup

dalam larutan hormon MT dalam berbagai

dosis (100, 200, 300, 400 ìg/l) dengan

empat durasi waktu perlakuan. Walaupun

tidak menggunakan ikan nila sebagai ikan

uji, hasil tersebut dapat mewakili atau

menggambarkan efek atau akibat dari

penggunaan dosis hormon MT yang berlebihan.

Penggunaan hormon yang berlebihan

juga ditemukan pada penelitian

Irfan (1996), dengan pembentukan individu

jantan hanya 83,54% pada perlakuan

hormon MT 50 mg/200 g pakan.

Mantau et al. (2001) melaporkan

penggunaan 15 mg hormon MT/kg pakan

tepung pelet sudah dapat menghasilkan

benih jantan 93% dengan rata-rata

mortalitas 3,25%. Penelitian ini menggunakan

happa sebagai wadah pemeliharaan

larva sebagaimana yang dilakukan

oleh Guerrero III dan Guerrero

(2004). Sementara itu penelitian Gustiano

(1992) dengan beberapa variasi perlakuan

dosis hormon MT (0, 15, 30, 45, 60 mg/

kg pakan) menghasilkan dosis terbaik 15

mg/kg pakan dengan individu jantan

yang terbentuk 79% dan sintasan 99%,

lebih rendah dari yang diperoleh Guerrero

III dan Guerrero (2004) yaitu 100%

sintasan. Ketiga penelitian tersebut

menggunakan metode yang serupa,

sehingga jika dibandingkan, dosis hormon

MT yang efisien adalah yang

dihasilkan Mantau et al. (2001), karena

dengan dosis hormon rendah (15 mg/kg/

pakan), persentase individu jantan yang

diperoleh tidak berbeda nyata dengan

hasil penelitian Guerrero III dan Guerrero

(2004) dan berbeda nyata dengan Gustiano

(1992) maupun Irfan (1996) yang hanya

mencampurkan hormon MT dalam 200 g

pakan.

Dari beberapa hasil penelitian

tersebut dapat disimpulkan bahwa

perubahan sel kelamin ikan nila dengan

pemberian pakan berhormon MT lebih

efektif dibandingkan dengan metode

pencelupan dalam larutan hormon karena

persentase terjadinya individu jantan

mendekati 100%, sedangkan dengan

pencelupan hanya sekitar 80%. Berdasarkan

pengalaman penulis di lapangan,

penggunaan pakan berhormon lebih

mudah dilakukan karena tidak perlu

menangkap telur atau larva ikan yang

akan dimaskulinisasi, namun hanya

cukup memindahkan induk ikan dan

pakan berhormon langsung bisa diaplikasikan.

Kesulitan penangkapan larva

dan telur lebih disebabkan peluang

mortalitasnya yang sangat tinggi.

Masalah dalam penggunaan metil

testoteron adalah hormon tersebut tidak

dijual bebas dan dibatasi penggunaannya

khususnya untuk tujuan komersial.

Penggunaan hormon MT untuk maskulinisasi

ikan nila dibatasi hanya pada tahap

pembenihan dengan durasi tidak lebih dari

1 bulan. Penggunaan pada tahap pembesaran

tidak diperbolehkan karena

dikhawatirkan akan membawa pengaruh

genetis bagi yang mengonsumsi ikan

tersebut. Untuk mengatasi keterbatasan

dalam menggunakan metil testosteron,

Baroiller dan Toguyeni (1995) menyarankan

menggunakan androgen alami yaitu

AD disarankan menggunakan (11 â-

hydroxy-androstenedione) untuk mengubah

kelamin ikan nila. Mereka menyatakan

bahwa perlakuan androstenedione

pada benih ikan nila pada dosis 10–35 mg/

kg pakan selama 21 hari sama efektifnya

dengan menggunakan MT pada dosis

yang sama.

ASPEK SOSIAL-EKONOMI

Ikan nila khususnya di Sulawesi Utara,

dewasa ini lebih diminati petani ikan

karena harga benih dan ikan ukuran

konsumsi relatif bersaing dengan ikan

mas, penanganan benih dan pembesarannya

relatif mudah serta efisien

dalam memanfaatkan pakan. Selain itu,

benih ikan nila lebih mudah diperoleh dan

permintaan pasarnya pun lebih terjamin

dibanding ikan mas dan ikan air tawar

lainnya (komunikasi pribadi dengan para

petani ikan nila di Desa Tara-Tara II, Eris,

Telap dan Tounelet 20002003).

Berdasarkan penelitian dan pengkajian

yang dilakukan BPTP Sulawesi

Utara, Mantau et al. (2001) melaporkan

bahwa keuntungan bersih teknologi intro

duksi BPTP Sulawesi Utara mencapai

Rp19.971.500/13 ekor induk/tahun,

sedangkan teknologi konvensional

Rp16.840.000/14 ekor induk/tahun, dengan

B/C ratio teknologi introduksi 2,60

(Tabel 2). Dengan demikian teknologi

pakan berhormon untuk menghasilkan

benih jantan lebih unggul dibandingkan

teknologi konvensional.

Penerapan teknologi maskulinisasi

memberikan berbagai keuntungan baik

dari segi teknis maupun ekonomis. Benih

yang dihasilkan seragam (ukuran dan

jenis kelamin), sehingga petani tidak

perlu lagi melakukan sortasi atau seleksi

benih serta ikan nila terhindar dari

pemijahan yang terlalu dini dan inbreeding.

Pemijahan dini dapat menurunkan

produktivitas ikan budi daya akibat

pertumbuhan ikan terhambat bahkan

terhenti terutama pada ikan betina

(Suyanto 1994). Dampak ekonominya adalah

ikan tidak laku terjual karena ukuran

konsumsi umumnya berkisar 1 kg/3–4

ekor, sedangkan bila pertumbuhan terhenti

bobot ikan kurang dari 50 g/ekor.

Maskulinisasi juga memudahkan

petani menerapkan budi daya ikan tunggal

kelamin terutama untuk menghindari

inbreeding atau perkawinan pada

keturunan yang sama. Pada budi daya

secara tunggak kelamin, energi dari

makanan hanya digunakan untuk pertumbuhan

sehingga dapat meningkatkan

produksi (Suyanto 1994). Dampak ekonominya

adalah penggunaan pakan

menjadi efisien sehingga menurunkan

biaya pakan yang merupakan biaya

terbesar dalam usaha budi daya ikan.

Selain itu poduksi yang tinggi dapat

meningkatkan daya jual petani sehingga

dapat memenuhi permintaan pasar secara

kontinu (Komunikasi pribadi dengan

petani ikan di Desa Eris dan Telap

2002–2003).

Maskulinisasi dapat pula menghasilkan

benih unggul untuk tujuan

pembesaran, karena ikan nila jantan lebih

cepat pertumbuhannya, dagingnya lebih

tebal, dan ukurannya lebih besar dibanding

ikan betina sehingga cocok

untuk ikan konsumsi. Jika dipersiapkan

untuk induk, ikan nila hasil dari

maskulinisasi ini lebih cepat matang

gonad.

KESIMPULAN

Pakan berhormon MT dapat merangsang

perubahan kelamin ikan nila pada

stadium larva (030 hari). Namun cara ini

tidak direkomendasikan untuk diaplikasi-

 

DAFTAR PUSTAKA

Baroiller, J.F. and A. Toguyeni. 1995. Comparative

effects of a natural androgen. ll â-

hydroxy-androstenedione and a synthetic

androgen, 17 á-methyl testosterone on the

sex ratios of Oreochromis niloticus. In R.S.V.

Pullin, J. Lazard, M. Legendre, J.B. Amon

Kothias, and D. Pauly (Eds.). The Third

International Symposium on Tilapia in

Aquaculture. ICLARM Conf. Proc. 41.

Fitzsimmons, K. 2004. Introduction to tilapia

sex-determination and sex-reversal. www.

aq.arizona.edu.

Gustiano, R. 1992. Penggunaan hormon dalam

pakan pada pembentukan ikan nila jantan.

Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian

XIV(5): 1516.

Griffin, M. 2004. Tilapia reproduction and sex

reversal. www.aquanic.org.

Guerrero III, R.D. and L.A. Guerrero. 2004.

Effects of androstenedione and methyl

testosterone on Oreochromis niloticus fry

treated for sex reversal in outdoor net

enclosures. www.nraes.org/publications.

www.aq.arizona.edu

Haniffa, M.A., S. Sridhar, and M. Nagarajan. 2004.

Hormonal manipulation of sex in stinging

catfish Heteropneustes fossilis (Bloch). Curr.

Sci. 86(7): 10121017. April 2004.

www.ias.ac.in

Irfan, M. 1996. Penggunaan hormon testosteron

dengan dosis berbeda terhadap

pembentukan individu jantan, mortalitas,

dan pertambahan berat benih ikan nila

(Oreochromis niloticus). Fakultas Perikanan

dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam

Ratulangi, Manado.

Mantau, Z., A. Supit, Sudarty, J.B.M. Rawung, U.

Buchari, L. Oroh, J. Sumampow, dan A.

Mamentu. 2001. Penelitian adaptif pembenihan

ikan mas dan maskulinisasi ikan nila

di Sulawesi Utara. Laporan Hasil Penelitian.

Instalasi Penelitian dan Pengkajian

Teknologi Pertanian Kalasey, Sulawesi Utara.

Matty, A.J. 1985. Fish Endocrinology. Croom

Helm London-Sydney, Timber Press,

Oregon.

Shapiro, Y.D. 1987. Differentiation and

evolution of sex change in fishes. Biosci.

Ser. 37(7): 490496.

Suyanto, S.R. 1994. Nila. PT Penebar Swadaya,

Jakarta.

Vera Cruz, E.M. and G.C. Mair. 1994. Conditions

for effective androgen sex-reversal in

Oreochromis niloticus (L.). Aquaculture 122:

237248.

www.balitbang-sumut.go.id. 2004. Pembenihan

ikan nila (Oreochromis niloticus).

Mohon Klik Google +1 untuk memberitahukan informasi ini atau seperti ini dibertahukan ke SAYA.

 
Shopping cart  Shopping cart
0 Product(s) in cart
Total Rp 0
» Checkout
News

Dapatkan Panduan
Dan Newsletter
Budidaya Ikan Dan
Tips Sukses.


Masukan
Email Anda!

 

Name:
Email:

 

© Copyright 2011
Ikan nila
by ikannila.com
Berita seputar budidaya ikan nila di seluruh Indonesia What's new this month...!
 
 

Ibu Negara Menebar benih ikan Nila saat mendampingi Presiden SBY di Wafuk Bening Madiun bersama Gubernur Jatim, Dirut PJT I dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II


Berita seputar budidaya ikan nila di seluruh Indonesia

Teknik Fisika ITB Hasilkan Mesin Pellet Apung

ANALISIS USAHA BUDIDAYA IKAN NILA GIFT
DAN IKAN PATIN DALAM KARAMBA DI KABUPATEN BARITO UTARA

BUDIDAYA IKAN NILA GIFT

Ajakan kerja sama usaha

Budaya Nila Dalam Kolam Semen dan Tangki

Berita ini di ambil dari surat kabar terkemuka sehingga keakuratan informasi dapat dipercaya.

PEDOMAN CARA BUDIDAYA IKAN

Teknik Pembenihan Ikan Nila
 

 

Credit cards home | about us | products | affiliates | search | view cart | contact us