Home » » Sarana Produksi dan Teknologi Pembenihan Ikan Nila

Sarana Produksi dan Teknologi Pembenihan Ikan Nila

Sarana produksi sebagai bahan baku dalam usaha pembenihan meliputi induk dan makanan (pakan). Persyaratan yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan sarana produksi sebagai berikut :

a. Induk. Nila unggul mulai dapat dijadikan induk ketika sudah memiliki bobot ± 0,4 kg, baik induk betina maupun jantan. Perbandingan antara populasi induk jantan dan betina untuk dikawinkan adalah 1 : 3. Pada umumnya, 1 paket induk ikan nila unggul berjumlah 400 ekor ikan yang terdiri atas 300 ekor induk nila betina dan 100 ekor induk jantan.

b. Makanan (Pakan). Pakan diperlukan untuk perawatan induk ikan nila unggul. Persyaratan pakan :
  • Pakan yang diberikan berupa pelet yang memiliki kadar protein antara 28 - 35% dengan kandungan lemak tidak Iebih dan 3%.
  • Banyaknya pelet sebagai pakan induk berkisar l - 3% berat biomassa per hari. Dalam praktik di lapangan, banyaknya pakan pelet berkisar antara 0,1 - 1% berat biomassa per hari tergantung tahapan kegiatan pembenihan yang sedang dilakukan dan ketersediaan pakan alami. Berat biomassa diketahui dengan pengambilan sampel 10 ekor ikan nila. Sampel tersebut ditimbang dan dicari rata-rata beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di kolam. Contoh, berat rata-rata ikan 220 gram dengan jumlah ikan 90 ekor, maka berat biomassa 220 x 90 = 19 800 gram. Jumlah ransum per hari 3% x 19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2 - 3 kali sehari. 
  • Pemberian vitamin E dan C yang berasal taoge atau bahan lain berupa daun-daunan atau sayuran yang diiris-iris untuk pembentukan telur ikan selama pemeliharaan induk.
  • Dedak halus dan bekatul dapat diberikan sebagai pakan. Bahan pakan tersebut dapat menambah kesuburan kolam Penambahan pakan alami di kolam dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian tertentu pada kolam dengan terlebih dahulu melubanginya. Cara ini bertujuan supaya pembusukan yang berlangsung di dalam karung tidak mengganggu kualitas air. Dalam beberapa hari berselang, biasanya di sekitar karung akan tumbuh plankton.
Dalam memproduksi benih ikan nila unggul diperlukan penerapan teknologi yang tepat guna. Pertumbuhan ikan nila unggul jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda. Ikan nila jantan 40% Iebih cepat tumbuh daripada nila betina. Jika sudah mencapai ukuran 200 gram, pertumbuhan nila betina semakin lambat, sedangkan nila jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala saat memproyeksikan produksi.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan budi daya ikan nila unggul secara tunggal kelamin (monosex culture), yaitu hanya ikan jantan saja yang dipelihara hingga mencapai ukuran konsumsi. Teknologi memproduksi benih jantan (maskulin/sasi) dengan rangsangan hormon merupakan suatu proses pembentukan jenis kelamin jantan. Saat masih berbentuk larva atau berumur 7 - 19 hari, nila dirangsang dengan hormon Metil Testosterone (MT) untuk membentuk jenis kelamin jantan. Maskulinisasi dapat dilakukan 2 cara, yaitu rangsangan hormon melalui perendaman dan perlakuan pakan berhormon.

Melalui cara perendaman, hormon dilarutkan dalam air dengan dosis 5 - 10 mg/l air + 2,5 ppt dimetilsulphoxide. Selanjutnya, larva ikan berumur 7 hari (burayak) direndam dalam larutan tersebut. Pemberian pakan berhormon diawali dengan pemilihan induk jantan dan betina. Induk jantan yang digunakan berukuran ± 200 g/ekor (± umur 4 bulan) sebanyak 6 ekor, sedangkan induk betina berukuran ± 150 g/ekor (± umur 4 bulan) sebanyak 18 ekor. 

Induk ikan nila unggul ditebar di dalam kolam pemijahan dengan perbandingan 1: 3 (1 ekor jantan dan 3 ekor betina). Dalam kolam pemijahan dibutuhkan ± 3 petakan kolam. Pada tiap petakan diletakkan 2 - 3 buah pen (pagar, kalasey) untuk pemijahan induk. Sebelum hormon ditambahkan ke dalam pakan, terlebih dahulu dilarutkan dalam alkohol. Volume alkohol disesuaikan dengan dosis hormon, misalnya 70% dan 95%. 

Hormon metil testosterone ditakar sebanyak 15 mg (± 1/8 bagian sendok teh). Volume alkohol 70% terdiri atas 15 mg MT : 9 ml alkohol (± ½ strip batang korek api). Volume alkohol 95% terdiri atas 15 mg hormon MT: 7,5 ml alkohol. Alkohol diukur dalam gelas minum biasa. Larutan hormon-alkohol tersebut dituangkan dalam pakan atau pelet yang sudah dihaluskan terlebih dahulu sedikit demi sedikit. 

Sebagai patokan dasar, pelet yang dibutuhkan sebanyak 1 kg/dosis hormon, sehingga dosis hormon MT dalam pakan menjadi 15 mg hormon MT dalam 1 kg pelet halus. Adonan tersebut diangin-anginkan sampai betul-betul kering dan bau alkohol hilang. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam kantong plastik tertutup dan dapat disimpan selama 2 bulan. 

Setelah induk betina mulai melepaskan larva ke luar dari mulut (rnulai 7. hari, maka larva-larva tersebut dapat segera ditangkap dipelihara dalam kolam pendederan. Selanjutnya, pakan berhormon diberikan selama ± 1 bulan pemeliharaan larva sebanyak 10% dari berat total larva. Stelah kurun waktu tersebut, larva atau benih telah terbentuk jenis kelaminnya hingga penggunaan yang lalu lama tidak memengarui pembentukan jenis kelamin bahkan dapat membahayakan jika digunakan terus untuk pembesaran ikan (ikan konsumsi). Dari hasil penelitian BPTP sulut menunjukkan bahwa persentasi benih jantan yang terbentuk mencapai 93% dengan tingkat kematian benih rata-rata 10%.