Home » » Penanganan Pascapanen Ikan Nila

Penanganan Pascapanen Ikan Nila

Prinsip dari penanganan pascapanen pada umumnya dilakukan terhadap ikan nila hidup. Tujuan penanganan pascapanen adalah mempertahankan kelangsungan hidup semaksirnal mungkin sampai diterima oleh kon sumen.


Beberapa kegiatan pascapanen melìputi:

a. Seleksi. Kegiatan ini dilakukan karena ukuran ikan nila dalam satu periode panen sangat beragam. ikan nila perlu diseleksi dan dipisahkan menurut ukuran. Ikan nila yang berukuran kecil sebaiknya dipelihara kembali.

b. Penimbangan. Ikan nila yang telah diseleksi segera ditimbang untuk mengetahui bobot ikan dan satu periode pemeliharaan. Berdasarkan bobot, pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dapat diketahui.

c. Pemberokan. Kegiatan merupakan usaha penyimpanan sementara sebelum dipasarkan dengan tujuan untuk membuang kotoran dalam tubuh ikan. Pemberokan ikan nila dapat dilakukan dalam bak. Selama pemberokan, ikan nila tidak diberi pakan. Pemberokan dilakukan selama 24 jam untuk perjalanan yang Iebih dari 12 jam. Untuk ikan konsumsi dilakukan pemberokan selama 1 - 2 jam.

d. Pengangkutan. Ikan nila konsumsi dapat diangkut dengan berbagai cara, tergantung tujuan pasar. Misalnya, pasar lokal, luar daerah, atau ekspor. Angkutan lokal biasanya menggunakan sistem basah, sedangkan untuk luar daerah yang jauh dan ekspor dilakukan dengan sistem kering.

Pada dasarnya, kegiatan transportasi ikan nila adalah “memaksa” menempatkan ikan dalam suatu lngkungan baru yang berlainan dengan lingkungan asalnya disertai perubahan-perubahan sifat lingkungari yang sangat mendadak. Transportasi ikan dapat menggunakan cara sistem basah dan kering.

A. Sistem Basah. Ikan diangkut di dalam wadah tertutup atau terbuka yang berisi air laut atau air tawar, tergantung jenis dan asal ikan. Pada pengangkutan dengan wadah tertentu, ikan nila di angkat di dalam wadah tertutup dan suplai oksigen diberikan secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan.

B. Sistem Kering. Transportasi ikan nila dengan sistem kering artinya memindahkan ikan hidup tanpa media air. Pertama-tama ikan dibuat masuk dalam kondisi tenang atau aktivitas respirasi dan metabolismenya rendah. Transportasi sistem kering ini biasanya menggunakan teknis pembiusan pada ikan (imotilisasi) terlebih dahulu sebelum dikemas.

Dalam praktik dilapangan, pascapanen ikan nila focus pada penanganan ikan hidup dan ikan segar yang telah mati. Ciri-ciri ikan nila segar antara lain memiliki warna cerah dan bersih, sisik melekat kuat serta mengilat (terlihat seperti ikan hidup), warna insan merah tidak pucat, daging tidak lembek dan apabila ditekan dengan jari terasa kenyal atau kembali seperti semula. 

Tabel. Ciri-ciri ikan nila segar bermutu tinggi dan bermutu rendah 
No
Para Meter
Ikan Segar Bermutu Tinggi
Ikan Segar Bermutu Rendah
1
Mata
Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih
Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea keruh
2
Insang
Warna merah cemerlang, tanpa lender
Warna kusam, dan berlendir
3
Lendir
Lapisan lender jernih, transparan, mengilat cerah, belum ada perubahan warna
Lendir berwarna kekuningan sampai coklat tebal, warna cerah hilang, pemutihan nyata
4
Daging dan perut
Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut dagingnya utuh, bau isi perut segar
Sayatan daging kusam, warna merah jelas sepanjang tulang belakang, dinding perut membubar, bau busuk
5
Bau
Segar, bau rumput laut, bau spesifik menurut jenis
Bau busuk
6
Konsistensi
Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang
Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang

Jika tidak tertangani dengan baik nilai produk yang dijual dapat dipastikan mengalami penurunan yang cukup tajam. Akibatnya harga jualnya tinggal setengah dari harga jual ikan hidup.