Home » » Meninkatkan Produk Panen Nila Lebih Berkualitas

Meninkatkan Produk Panen Nila Lebih Berkualitas

Kemajuan teknologi telah memberikan pengaruh yang luar biasa pada dunia pertanian, peternakan, dan Perikanan. Penggunaan pupuk dan pakan buatan dapat meningkatkan hasil produksi bahan pangan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.Tidak hanya itu, hormon pertumbuhan pun telah digunakan untuk meningkatkan produksi.

Namun, orientasi yang hanya tertuju pada peningkatan hasi produksi membuat dampak negatif yang muncul menjadi terabaikan. Semua berlomba-lomba rnenciptakan “mukjizat” pendongkrak produksi. Akibat nya, masalah pangan yang seharusnya menjadi panduan menuju kehidupan yang sehat malah terlupakan. 

Ikan nila terlihat segar dan gemuk
Belakangan ini kelompok masyarakat tertentu mulaj menyadari pentingnya kesehatan bahan pangan. Kemudian muncul produk pangan organik. Produk organik merupakan produk sehat karena diproduksi tanpa menggunakan bahan kimia. Istilah beras, buah, dan sayur organik semakin akrab di telinga. Untuk telur, daging, dan susu mungkin masih jarang yang menggunakan label organik. Mungkin produk ini masih dianggap ”baik-baik saja”, meskipun tanpa label organik atau dalam kenyataannya, produk ini masih diproduksi secara alami.

Produk pangan sehat atau organik sebenarnya lebih tepat disebut sebagai produk pangan alami, karena diproduksi dengan bantuan pupuk atau pakan yang bersifat alami. Artinya, semua bahan baku tersedia di alam dan secara alamiah merupakan “makanan” bagi tanaman atau hewan yang dibudidayakan. Produk pangan seperti ini sebenarnya jumlah produksinya masih sedikit.
Pada budi daya ikan, khususnya nila, istilah organik sejatinya masih jarang terdengar. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ikan nila memang diproduksi secara organik karena pakannya terbuat dari bahan organik. Pakan pelet dibuat dan campuran tepung ikan, bungkil kedelai, jagung, dengan tambahan beberapa jenis vitamin. Semua bahan bakunya adalah bahan organik. 

Hasil pertumbuhan ikan memang terbukti pesat dengan bahan pakan tersebut. Namun, pernahkah terpikirkan bahwa bahan-bahan tersebut sebenarnya tidak diperuntukkan langsung untuk ikan? Apakah ikan yang tumbuh pesat dengan pelet sama sekali tidak berdampak negatif pada manusia yang mengonsumsinya? Bahan pelet yang tidak alami dan residunya di perairan tidak pernah mendapat perhatian khusus. Padahal, ini merupakan pemicu munculnya berbagai penyakit ikan yang tentu juga berakibat tidak baik bagi kesehatan manusia.

Pertanyaan di atas tidak akan muncul apabila Lemna dijadikan sebagai pakan nila. Lemna merupakan tumbuhan yang sangat disukai oleh nila. Tumbuhan ini hidup dan berkembang biak di air sehingga dapat dikatakan sebagai pakan alami bagi ikan nila. Pakan seperti ini tidak menghasilkan residu. Bahkan, kotoran nila yang diberi pakan Lemna justru menjadi mudah terurai dalam air. Efeknya, perairan di lokasi budi daya dan sekitarnya bisa dipastikan terbebas dan polusi akibat dan residu pakan.
Nila yang diberi pakan Lemna memilikil ketahanan hidup yang sangat balk. Angka kematian pada kolam budi daya menjadi sangat rendah. Pada cuaca ekstrem pun angka kematian nila pada kolam budi daya tldak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari segi kualitas daging, nila yang diberi pakan Lemna menghasllkan daging yang lebih banyak dan terasa lebih kesat dengan lemak yang sangat sedikit Rasa daging juga menjadi leblh gurih dan tidak mudah busuk. Bau amis yang biasanya menyengat pun menurun. 

Kualitas ikan yang diberikan pakan alami leblh baik dlbandingkan dengan ikan yang diberikan pakan pelet. Secara morfologi, Ikan yang diberikan pakan alami memiliki warna tubuh yang lebih cerah dan cemerlang. Wama sisiknya menjadi leblh tajam sehingga sosok nila menjadi semakin menarik. Ikan yang sudah dipanen dalam keadaan yang tidak diberi air akan mampu hidup lebih lama dibandingkan dengan ikan lain yang diberi pelet.