Home » » Lokasi, Sarana & Sistem Pembesaran Ikan Nila

Lokasi, Sarana & Sistem Pembesaran Ikan Nila

Pembesaran dimaksudkan untuk pemeliharaan anakan sampai berukuran siap konsumsi guna memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri (ekspor). Usaha pembesaran dimulai dari pemeliharaan benih ukuran 6 - 10 cm, 10 - 14 cm, atau 16 - 18 cm hingga mencapai ukuran konsumsi untuk pasar lokal kurang lebih 200 - 250 gram/ekor atau untuk ekspor diatas 500 gram/ekor. Lama pembesaran ikan yang akan dipanen. Sebagai bahan pertimbangan, terdapat 4 ukuran atau berat ikan nila unggul yang diproduksi dipasaran, yaitu :
  • Berat 100 gram, umumnya kurang lebih 3 - 4 bulan
  • Berat 250 gram, umumnya kurang lebih 4 - 6 bulan
  • Berat 500 gram, umumnya kurang lebih 6 - 8 bulan
  • Berat > 800 gram, umumnya kurang lebih 9 - 12 bulan 
Ikan Nila tumbuh besar
Lokasi, Sarana dan Sistem Pembesaran

Lokasi usaha pembesaran sangat menentukan keberhasilan budi daya. Terdapat beberapa persyaratan untuk lokasi pembesaran, antara lain :
  • Berada di dataran rendah sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl.) dan letaknya strategis. 
  • Air jangan terlalu keruh dan tidak tercemar, baik pencemaran dari Iimbah industri maupun rumah tangga. 
  • Suhu air yang optimal berkisar antara 25 - 30°C. 
  • Kondisi perairan tenang dan bersih. Nilai keasaman air (pH) berkisar 6 - 8,5 dan nilai optimal pH 7 - 8. Ikan nila mampu hidup pada kondisi kadar garam 0 - 35 per mil. 
Sarana pembesaran yang wajib tersedia adalah wadah pemeliharaan dan peralatan. Wadah pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Benih ikan nila unggul yang akan dibesarkan dapat berasal dan pendederan I (gelondongan kecil) atau pendederan II.

Apabila benih berasal pendederan II, berarti ukurannya sudah cukup besar sehingga waktu yang dibutuhkan sampai panen tidak terlalu lama. Usaha semacam ini mengandung risiko yang Iebih kecil karena tingkat mortalitasnya rendah. Hasil panen yang seragam atau serempak pertumbuhannya dengan ukuran super adalah salah satu target yang perlu dicapai.

Beberapa jenis wadah pembesaran untuk mencapai ukuran konsumsi, yaitu :
  • Kolam tanah, beton atau terpal. Kolam berbentuk empat persegi panjang dengari luas 200 - 500 m2 atau disesuaikan dengan skala usaha yang direncanakan dengan kedalaman 1 - 1,25 m. Dasar kolam dapat berupa tanah atau beton. 
  •  Jaring terapung yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran minimal 1 - 4 m2 dan maksimal 9 - 49 m2 dengan kedalaman antara 1,5 - 2 m.
  • Hampang atau keramba. Media ini dapat diterapkan diperairan dasar yang dangkal dengan kedalaman air 1- 2 m.
  •  Mina padi di lahan sawah.
Peralatan yang diperlukan antara lain jala, anco, drum, ember, timbangan, tabung oksigen, serok, jaring, dan cangkul. Bahkan, pada pemeliharaan intensif dapat dilengkapi dengan peralatan untuk mengukur kualitas air, seperti DO meter, pH meter, thermometer, dan spektrophotometer. Secara umum, pembesaran ikan nila dapat dilakukan dalam sistem dan intensitas pemeliharaan secara ekstensif, semi-intensif, dan intensif. Pembesaran ikan nila unggul dilakukan dengan sistem semi-intensif dan intensif.

Berikut rincian karakteristik tiga sistem pembesaran ikan nila:

A. Sistem Ekstensif (Teknologi Sederhana)  
Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang belum berkembang dan dipopulerkan di wilayah desa miskin.

Ciri sistem ekstensif :
  • Input produksi sangat sederhana dan biasanya dilakukan di kolam air tawar atau sawah. 
  • Pengairan tergantung musim hujan. 
  • Kolam yang digunakan biasanya kolam pekarangan yang sempit. 
  • Hasil ikan hanya untuk konsumsi keluarga sendiri. 
  • Sistem pemeliharaan secara polikultur. 
Di samping itu, karakateristik sistem ekstensif ditandai dengan pemupukan yang tidak diterapkan secara khusus. Ikan nila diberi pakan berupa bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur, limbah pertanian berupa dedak, bungkil kelapa, dan lain-lain. Perkiraan panen juga tidak tentu. Ikan nila yang sudah agak besar dapat dipanen sewaktu-waktu. 

Hasil pemeliharaan sistem ekstensif sebenarnya cukup lumayan, karena proses panennya bertahap. Untuk kolam berukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan benih ikan nila sebanyak 30 ekor. Setelah 3 bulan, induk sudah menghasilkan telur dan demikian seterusnya. Total produksi sistem ini dapat mencapai 1.000 kg/ha/tahun. Penggantian air kolam menggunakan air sumur yang dilakukan seminggu sekali. 

B. Sistem Semi-Intensif 
Pemeliharaan semi-intensif atau disebut teknologi madya dapat dilakukan di kolam, tambak, sawah, dan, jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk pendederan. Dalam sistem ini sudah dilakukan pemupukan dan pemberian pakan tambahan yang teratur. Prasarana berupa saluran irigasi cukup baik, sehingga kolam dapat berproduksi 2 - 3 kali per tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat dilakukan secara rutin. 

Pemeliharaan ikan di sawah hanya membutuhkan waktu 2 - 2,5 bulan karena bersamaan dengan proses hidup tanaman padi atau sebagai penyelang. Oleh karena itu, hasil ikan dan sawah ukurannya tak lebih dan 50 gram, apabila benih ikan nila yang dipelihara berupa benih gelondongan besar. 

Budi daya pembesaran ikan nila unggul secara semi-intensif di kolam dapat dilakukan secara monokultur dan polikultur. Pada monokultur, sebaìknya dipakai sistem tunggal kelamin (monoseks) jantan karena nila jantan tumbuh lebih cepat daripada betina. Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (integrated), artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain atau dengan industri rumah tangga. Misalnya usaha ternak kambing, itik, dan sebagainya.
Kandang dapat dibuat di atas kolam supaya kotoran ternak dapat menjadi pupuk. Kangkung, genjer, dan sayuran lainnya juga dapat dipelihara bersama ikan nila. Lirnbah sayuran menjadi pupuk dan pakan tambahan. Sementara itu, lumpur yang kotor dan kolam ikan dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran. Usaha huller (penggilingan padi) mempunyai hasil sampingan berupa dedak dan katul. Oleh karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan di dekat penggilingan tersebut. Penelitian di Balai Penelitian Perikanan menunjukkan bahwa, sistem integrated dapat menghasilkan ikan sampai 5 ton/ha/tahun.

 C. Sistem Intensif 
Pemeliharaan intensif (teknolog√¨ maju) merupakan sistem pemeliharaan ikan nila unggul secara modern. Produksi ikan nila unggul dapat mencapai tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pemeliharaan dengan sistem intensif dapat dilakukan di kolam (kolam tanah, beton, terpal) dan tambak air payau dengan pengairan yang baik. 

Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau bahkan Iebih. Pada usaha pembesaran secara intensif, benih ikan nila unggul yang dipelihara “tunggal kelamin jantan”. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan yang bermutu dengan ransum harian 3% dan berat biomassa ikan per hari. Pakan yang diberikan berupa pelet yang berkadar protein 25 - 26% dan lemak 6 - 8%.