Suhu, Intensitas Cahaya Matahari, Dan Kedalaman Ikan Nila

Plankton dan tumbuhan air gulma (Lemna sp., Wollfia, Spyrogyra) Umumnya lebih sensitif terhadap suhu dan intensitas cahaya matahari. Gulma air dan plankton merupakan jenis tumbuhan yang merupakan suhu dan intensitas cahaya yang tidak berlebihan selama pertumbuhannya. 

Untuk lokasi dengan suhu dan intensitas cahaya matahari yang tinggi saat musim kemaarau, hal ini dapat menjadi foktor penghambat tumbuhnya pakan alami. intensitas  cahaya yang tinggi dapat mengakibatkan kenaikan suhu air terutama pada kolam yang tidak terlalu dalam, Sehingga dapat menimbulkan kematian pada pakan alami.

Kedalaman kolam hendaknya disesuaikan dengan tempat dan lingkungan budi daya ikan dan pakan alami tersebut. Kedalaman kolam dapat mempengaruhi kemampuan cahaya mataharidalam mencapai dasar kolam dan merubah suhu air kolam yang nantinya akan berdampak pada tingkatan pertumbuan pakan alami. Kedalam kolam yang ideal bagi pertumbuhan pakan alami berkisaran antara 15-25 cm, tujuannya untuk menjaga air agar tidak mengalami kenaikan suhu yang signifikan saat musim kemarau. 

Pengaturan Tata Letak Kolam Ikan

Penataan kolam ikan dan kolam pakan dibuat berdekatan atau berada disatu area yang sama. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengangkutan pakan ke kolam, sehingga pakan yang diberikan pada ikan masih dalam kondisi segar. Penataan ini juga berfungsi untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan pakan, sehingga pengangkutan dapat dilakukan tanpa mengeluarkan biaya produksi yang berlebih.


Penataan kolam dapat disesuaikan dengan keadaan tempat budi daya. Jika lokasi budi daya merupakan daerah pematang sawah yang dialihfungsikan. Artinya tidak perlu perlakuan khusus. Pinggiran petak sawah dapat dilapisi bambu agar tidak terjadi kebocoran antar sisa petak sawah yang telah diisi air.Namun kolam ingin dibuat lebih tahan lama dan anti hama, petak sawah tersebut dapat dilapisi beton dan dibuat pengairan yang lebih baik. Pada bagian seluruh air dabat diberikan saringan khusus agar ikan dari kolam lain dan dari saluran air tidak tercampur kekolam selanjutnya.

Sistem pengairan yang dapat dilakukan adalah sistem pengairan seri, yaitu sistem aliran air yang kontinyu dari satu kolam ke kolam lain yang disambungkan dengan pipa-pipa yang saling terhubung. Pengairan dimulai dari aliran mata air yang pertama kali mengalir menuju kolam ikan, lalu dialirkan terus dari kolam ikan menuju kolam-kolam lain yang berisi ikan dan pakan.

Sistem pengairan seperti ini cukup aman untuk penggunakaan pakan alami karena pada kolam yang berisi ikan tinja hasil eksresinya tidak mengandung zat berbahaya dan dapat menjadi sumber nutrisi bagi zooplankton serta tumbuhan air. Kotoran ikan ini akan ikut mengalir dan akan sampai kolam yang berisi pakan alami. Dengan sistem seperti ini, siklus budi daya ikan dan pakan alami akan terus berputar dan tidak ada satu pun hasil budidaya itu yang terbuang percuma.

Saluran air yang dibuat untuk sistem pengairan ini memiliki ketinggian berkisar 15 - 20 cm dari permukaan kolam. Hal ini dilakukan agar ketika pakan ditebar dan berkumpul di permukaan air, pakan tidak ikut hanyut dan masuk kekolam lain. Aliran air yang digunakan pada sistem ini merupakan aliran merupakan aliran yang lambat dengan kualitas air bersih yang berasal dari mata air pengunungan.

Hal yang perlu Diperhatikan Saat Membeli Bahan Baku Ikan Nila Segar Mati


Proses pemilihan nila unggul di mulai dari pemilihn ikan nila sebagai bahan baku.bahan baku yang baik menghasilkan produk yang baik pula, Ada beberapa hal yang perlu diperhatian saat memilih bahan balu ikan nila segar mati yaitu .

        1. Pilih ikan nila sebaik mungkin dengan memperjatikan ciri ciri ikan segar.

        2. Hindari membeli ikan nila yang dberi zat pengawet yang tidak di izinkan, misalnya amoniak dan formalin.

        3. Jagan membeli ikan nila yang harganya jauh di bawah harga umum atau harga pasar. harga yang jauh di bawah harga umum biasanya disebabkan bahan baku yang menurun kwalitasnya atau di awetkan dengan pengawet yang tidak di ijinkan.

        4. Ambil contoh atau sempel apabila pembelian ikan nila dalam jumlah besar. Sampling mewakili setiap wadah yang digunakan.

        5. Pilih ikan nila yang ukurannya hampir sama untuk memudahkan proses pengolahan tidak perlu melakukan penyontiran kembali.

        6. Bili ikan nila dari pedagang yang sudah di kenal supaya kualitas bahan bisa di pertanggung jawabkan.

       7. Tetap kan pembelian dalam rantai pemasran yang paling pendek.

Ikan nila ini dapat di olah menjadi beberapa macam olahan, baik dalam sekala industri sampai rumah tangga.

Perbndingan Luas Kolam Ikan dan Pakan

Bibit ikan nila berukuran l - 2 cm belum mampu mengonsumsi kiambang (Lemna minor). Karena itu, gunakan pakan Wolffia sebagai pakan subtitusinya. Perlu diperhatikan bahwa iklim atau musin, juga memengaruhi pertumbuhan jenis tumbuhan air tertentu. Pakan alami seperti kiambang merupakan jenis pakan yang mengalami penurunan populasi pada musim kemarau, sehirigga untuk mengantisipasi hal ini perlu dïbudidaya kan tumbuhan air jenis lain, seperti spirogyra untuk menggantj kekurangan pasokan kiambang sebagai pakan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kolam pakan yang tersedia sebaiknya memiliki ukuran tiga kali Iebih luas dibandingkan dengan kolam budi daya ikan nila. Artinya, untuk memberi pakan 1 m2 kolam budi daya yang berisi sekitar 20 - 25 ekor ikan dengan kedalaman kolam 1,25 m diperlukan 3 m luas kolam yang telah dipenuhi pakan alami.


Dengan ukuran 1 m2 kolam Lemna harus mampu memenuhi minimum 1 kg pakan don setiap 1 m2 harus mampu memenuhi 5 kg ikan. Jadi, untuk menghasilkan jumloh bobot 5 kg ikan harus tercapai bobot pakan sebanyak 1 kg per 1 m2. Jika kolom pakan berwarna hijau pekat dan memiliki Lemna yang berlapis-lapis menandakan ketersediaan Lemna sebagai pakan telah cukup untuk diberikan kepada ikan.

Ketersediaan Sumber Air Harus Maksimal dan Bersih

Untuk mendukung budi daya ikan nila yang ramah lingkungan, hendaknya sumber air bagi lahan budi daya juga perlu diperhatikan. Air yang ideal harus bersih dan bebas dari campuran bahan berbahaya. Karena itu, sumber air yang dibutuhkan sebaiknya berasal langsung dari mata air yang dialirkan melalui pipa-pipa atau saluran irigasi air.

Pengukuran kualitas air juga perlu dilakukan untuk memastikan apakah air tersebut ideal atau tidak bagi budi daya ikan nila. Parameter yang perlu diperhatikan dalam pengukuran ini di antaranya derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut, suhu, dan kecerahan. Suhu air yang ideal berada pada rentang 18 - 33 °C  dengan pH air yang mendekati netral yaitu sekitar 5 - 71 dan kandungan oksigen terlarut sebesar >2 mg/liter (ppm).


Segmentasi Pemasaran Ikan Nila Unggul

Produksi utama ikan nila unggul terdiri dari dua jenis, yaitu benih atau bibit dan ikan konsumsi, 

Pemasaran kedua jenis produk tersebutmemiliki karakteristik. tersendiri. 


Berikut segmentasi pemasaran ikan nila unggul yang diadaptasi dari sentra produksi manipolitan di provinsi Jawa Tengah.


   # Pemasaran Jenis

Permintaan benih pada umumnya berasal dari sentra sentra budi daya ikan nila, seperti kawasan minapolitan kabupaten kabupaten provinsi Jawa Tengah, khususnya Klaten, sekitar Waduk Cengklik-Boyolali, dan Waduk Kedungombo di perbatasan Boyolali dan Sragen, serta daerah  Cangkringan, Sleman (Yogyakarta). Kebutuhan benih ikan nila unggul untuk kawasan manipolitan tersebut masih sangat tinggi. Pasokan benih ikan nila unggul biasanya dari seleman Yogyakarta.

Dari beberapa tahun terakhhir tenyata produksi ikan nila dari pembenih di kawasan manopolitan tersebut hanya sekitar 5,7 juta ekor benih ikan nila pertahun. Sementara di sentra sentra budidaya ikan nila tersebut membutuhkan benih ikan nila sekitar 15,12 juta ekor.

Harga benih ikan nila unggul relatif setabil. Apabila terjadi peningkatan biasanya sebatas penyesuaian tahap kenaikan harga pakan. Stabilnya harga disebabkan adanya hubungan kerja sama yang sudah cukup lama antara para pembenih dengan pembesaran budidaya ikan nila unggul. Harga benih ikan nila unggul bervariasi ditentukan oleh besarnya atau umur anak ikan nila.

Semakin besar fisik benih, maka harga perekor akan semakin mahal. Ukuran benih yang siap ditebar di kolam pembesaran disebut gelondongan, yaitu benih berukuran panjang 9-15 cm. Ukuran pemasaran benih ikan nila unggul di kawasan minapolitan provinsi Jawa Tengah disajikan dalam Tabel.


No

Umur Benih
 (Dihitung Sejak Telur Menetas)

Kesetaraan Ukuran
1
3 minhhu-1,5 bulan
(benih kecil, Kebul, nener)
2-3 cm
3-5 cm
5-7 cm
7-9 cm
2
2, 5-3 bulan
(gelandangan)
9 – 12

(80-60 ekor per kg)
3
4 bulan
(gelondongan besar)
12- 15 cm
(60-40 ekor per kg )

Benih ikan unggul pada umumnya dijual dengan satuan perbobot (kg). Apabila benih ikan unggul di jual dalam ukuran yang lebih kecil ( sebelum ukutran gelondong ),benih ikan tersebut dijual per ekor. 

Pembudidaya yang bermodal kecil adalah petani yang melakukan budidaya di kolam sendiri dengan modal kerja sendiri pula. Pembudidaya bermodal besar selain memiliki kolam sendiri juga memiliki  jaringan kementrian  inti-plasma dengan beberapa pembudidaya ikan nila yang bermodal kecil.

Pembudidaya ikan nila bermodal besar berperan sebagai perusahaan  inti yang menyediakan pakan dan benih serta pembelian hasil panen.  Pembudidaya ikan nila bermodal kecil berperan sebagai plasma yang menyediakan kolam dan tenaga kerja. 

Hasil ikan nantinya kembali di beli pembudidaya ikan nila bermodal besar dengan harga pasar dan hasilnya di bagi menjadi dua dengan presentase  sesuai kesepakatan, biasanya adalah 50 : 50 atau 60 : 40.

Jalur pemasaran benih ikan nila unggul disajikan dalam ilustrasi berikut.



      # Pemasaran Ikan Nila Kosumsi

Lama budidaya ikan unggul, khususnya pembesaran untuk mencapai ukuran konsumsi,  pada umumnya berlangsung empat bulan. Apabila ikan di kolam lebih dari waktu yang sudah ditentukan, biaya pakan akan semakin besar. Selain memenui pasar domestik, produksi ikan nila unggul juga di tuh=jukan untuk pasar ekpor.

Pada pasar domestik, permintaan ikan nila unggul semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk mekonsumsi ikan sebagai sumber protein hewani. Untuk pasr ekpor, salah satu pasar yang palaing potensial untuk ikan nila unggul adalah Amerika Serikat. Ragam produksi nila unggul yang di impor oleh Amerika Serikat antara lain dalam bentuk utuh. Fillet segar (lembaran daging tanpa tulang), dan fillet beku.

Disamping amerika serikat masih banyak negara lain yang membutuhkan pasokan ikan nila, seperti Jepang, Singapura, Hongkong, dan beberapa negara di Eropa. Pemasok fillet ikan nila tersebar di dunia adalah Tiongkok, Indonesia, Thailand, Taiwan, Dan Filipina. Namun jumlah seluruh pasokan tersebut masih jauh di bawah kebutuhan  fillet ikan nila di dunia. 

Berdasarkan data dari Foood Agriculture Organization ( FAO) menunjukan bahwa pengalaman pada tahun 2010 kebutuhan ikan nila untuk pasar dunia kekurangan pasokan sebesar 2 juta ton/tahun.

Di pasar lokal permintaan pasokan ikan nila lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pangan rumahtangga, restoran restoran apungm dan tempat tempat pemancingan. Biasanya usaha kolam pemancingan membeli ikan nila unggul ukuran 1kg berisi 3-4 ekor. Salah satu penggusaha ikan nila adalah Aquafarm di Jawa Tengah. Pabrik tersebut memenuhi permintaan ekspor fillet ikan nila ke luar negri, terutama Amerika.

Jalur pemasaran ikan nila sangat sederhana.  Pembeli yang membeli ikan nila dalam jumlah besar atau eceran dapat lansung mendatangi pemilik kolam yang sedang panen .

Pembelian dalam partai besar ( pengepul) akan menjual kembali untuk restoran apung atau tempat tempat pemancingan. jalur pemasaran ikan nila konsums di kabupaten kabupaten kawasan minapolitan Provinsi Jawa Tengah disajikan dalam ilustrasi berikut.


Kebutuhan Luas Tanah untuk Budi Daya Ikan Nila

Tidak ada luas lahan minimal yang diperlukan dalam budi daya nila. Beberapa sumber menerangkan bahwa lahan ideal yang dibutuhkan untuk budi daya ikan nila sebesar 1.000 m2. Luas lahan yang dibutuhkan untuk budi daya dengan pakan alami hendaknya disesuaikan dengan jumlah kolam yang akan dibuat dan keseluruhan luas lahan yang dimiliki. Hal ini harus diperhatikan karena nantinya luas lahan yang dimiliki akan dibagi ke dalam dua jenis budi daya, yaitu kolam budi daya ikan dan kolam budi daya pakan.

Mengacu kepada takaran pakan ideal, yaitu 1 : 3 dengan perbandingan 1 m2 luas jumlah ikan sebanding dengan luas kolam pakan 3 m2. Artinya, dalam pembagian lahan perlu dibagi sesuai dengan jumlah bibit ikan dan pakan yang dibutuhkan. Sebagai contoh, jika kita akan menebar bibit dengan keseluruhan luas berkisar 200 m2, maka diperlukan lahan budi daya pakan 600 m2.

Lahan budi daya pakan sendiri dibuat lebih luas karena umumnya pakan alami mengalami pertumbuhan yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah kebutuhan pakan bagi ikan saat proses pemeliharaan.
"Luas lahan yang dibutuhkan untuk budi daya pakan ikan sebaiknya lebih luas dibandingkan dengan luas kolam budi daya ikan."
Pada dasarnya, budi daya ikan berfokus pada seberapa banyak pembudi daya menyediakan pakan. Hal tersebut berlaku pada jenis pakan apa pun, baik pakan palet maupun pakan alami berupa Lemna. Pada tahap awal, pembudidaya perlu menyiapkan pakan setelah mengestimasi jumlah populasi nila yang akan dibudidayakan. Petani ikan wajib menyiapkan pakan terlebih dahulu sebelum memulai budi daya ikan, sehingga ketersediaan pakan alami berada dalam jumlah yang aman.

Mendukung Konsep Blue Economy

Blue Economy merupakan sebuah model ekonomi baru untuk mendorong pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan tidak hanya sebatas pada perlindungan lingkungan, Blue Economy berfokus pada kepastian ekosisten, yang mampu menjaga proses evolusi pemanfaatan sumber daya alam berupa kreativitas, adaptasi, dan kelimpahan. Selain itu, untuk menjaga lingkungan perairan dan pencemaran oleh limbah, sehìngga diharapkan aspek perikanan lebih memperhatikan keramahan Iingkungan dan meningkatkan pendapatan pembudidaya. 

Kualitas air, Pakan alami menjaga kolam dan aliran air kolam tetap jernih serta ramah lingkungan
Pemanfaatan pakan alami sangat sesuai dengan konsep Blue Economy yang memuat unsur zero waste (tidak adanya Iimbah yang terbuang dari produk kelautan dan perikanan). Selain itu pakan alami juga telah sesuai dengan prinsip Blue Economy yang tidak membutuhkan biaya tambahan untuk memproduksi sebuah produk sehingga bukan hanya memotong biaya, tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan.

Penerapan Blue Economy pada pembangunan kelautan dan perikanan diharapkan tidak hanya mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara efisien tanpa limbah, tetapi juga dapat melipatgandakan manfaat secara ekonomi, membuka lapangan kerja lebih luas, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan melinduni lingkungan dari kerusakan.

Meninkatkan Produk Panen Nila Lebih Berkualitas

Kemajuan teknologi telah memberikan pengaruh yang luar biasa pada dunia pertanian, peternakan, dan Perikanan. Penggunaan pupuk dan pakan buatan dapat meningkatkan hasil produksi bahan pangan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.Tidak hanya itu, hormon pertumbuhan pun telah digunakan untuk meningkatkan produksi.

Namun, orientasi yang hanya tertuju pada peningkatan hasi produksi membuat dampak negatif yang muncul menjadi terabaikan. Semua berlomba-lomba rnenciptakan “mukjizat” pendongkrak produksi. Akibat nya, masalah pangan yang seharusnya menjadi panduan menuju kehidupan yang sehat malah terlupakan. 

Ikan nila terlihat segar dan gemuk
Belakangan ini kelompok masyarakat tertentu mulaj menyadari pentingnya kesehatan bahan pangan. Kemudian muncul produk pangan organik. Produk organik merupakan produk sehat karena diproduksi tanpa menggunakan bahan kimia. Istilah beras, buah, dan sayur organik semakin akrab di telinga. Untuk telur, daging, dan susu mungkin masih jarang yang menggunakan label organik. Mungkin produk ini masih dianggap ”baik-baik saja”, meskipun tanpa label organik atau dalam kenyataannya, produk ini masih diproduksi secara alami.

Produk pangan sehat atau organik sebenarnya lebih tepat disebut sebagai produk pangan alami, karena diproduksi dengan bantuan pupuk atau pakan yang bersifat alami. Artinya, semua bahan baku tersedia di alam dan secara alamiah merupakan “makanan” bagi tanaman atau hewan yang dibudidayakan. Produk pangan seperti ini sebenarnya jumlah produksinya masih sedikit.
Pada budi daya ikan, khususnya nila, istilah organik sejatinya masih jarang terdengar. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ikan nila memang diproduksi secara organik karena pakannya terbuat dari bahan organik. Pakan pelet dibuat dan campuran tepung ikan, bungkil kedelai, jagung, dengan tambahan beberapa jenis vitamin. Semua bahan bakunya adalah bahan organik. 

Hasil pertumbuhan ikan memang terbukti pesat dengan bahan pakan tersebut. Namun, pernahkah terpikirkan bahwa bahan-bahan tersebut sebenarnya tidak diperuntukkan langsung untuk ikan? Apakah ikan yang tumbuh pesat dengan pelet sama sekali tidak berdampak negatif pada manusia yang mengonsumsinya? Bahan pelet yang tidak alami dan residunya di perairan tidak pernah mendapat perhatian khusus. Padahal, ini merupakan pemicu munculnya berbagai penyakit ikan yang tentu juga berakibat tidak baik bagi kesehatan manusia.

Pertanyaan di atas tidak akan muncul apabila Lemna dijadikan sebagai pakan nila. Lemna merupakan tumbuhan yang sangat disukai oleh nila. Tumbuhan ini hidup dan berkembang biak di air sehingga dapat dikatakan sebagai pakan alami bagi ikan nila. Pakan seperti ini tidak menghasilkan residu. Bahkan, kotoran nila yang diberi pakan Lemna justru menjadi mudah terurai dalam air. Efeknya, perairan di lokasi budi daya dan sekitarnya bisa dipastikan terbebas dan polusi akibat dan residu pakan.
Nila yang diberi pakan Lemna memilikil ketahanan hidup yang sangat balk. Angka kematian pada kolam budi daya menjadi sangat rendah. Pada cuaca ekstrem pun angka kematian nila pada kolam budi daya tldak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari segi kualitas daging, nila yang diberi pakan Lemna menghasllkan daging yang lebih banyak dan terasa lebih kesat dengan lemak yang sangat sedikit Rasa daging juga menjadi leblh gurih dan tidak mudah busuk. Bau amis yang biasanya menyengat pun menurun. 

Kualitas ikan yang diberikan pakan alami leblh baik dlbandingkan dengan ikan yang diberikan pakan pelet. Secara morfologi, Ikan yang diberikan pakan alami memiliki warna tubuh yang lebih cerah dan cemerlang. Wama sisiknya menjadi leblh tajam sehingga sosok nila menjadi semakin menarik. Ikan yang sudah dipanen dalam keadaan yang tidak diberi air akan mampu hidup lebih lama dibandingkan dengan ikan lain yang diberi pelet.

Penanganan Pascapanen Ikan Nila

Prinsip dari penanganan pascapanen pada umumnya dilakukan terhadap ikan nila hidup. Tujuan penanganan pascapanen adalah mempertahankan kelangsungan hidup semaksirnal mungkin sampai diterima oleh kon sumen.


Beberapa kegiatan pascapanen melìputi:

a. Seleksi. Kegiatan ini dilakukan karena ukuran ikan nila dalam satu periode panen sangat beragam. ikan nila perlu diseleksi dan dipisahkan menurut ukuran. Ikan nila yang berukuran kecil sebaiknya dipelihara kembali.

b. Penimbangan. Ikan nila yang telah diseleksi segera ditimbang untuk mengetahui bobot ikan dan satu periode pemeliharaan. Berdasarkan bobot, pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dapat diketahui.

c. Pemberokan. Kegiatan merupakan usaha penyimpanan sementara sebelum dipasarkan dengan tujuan untuk membuang kotoran dalam tubuh ikan. Pemberokan ikan nila dapat dilakukan dalam bak. Selama pemberokan, ikan nila tidak diberi pakan. Pemberokan dilakukan selama 24 jam untuk perjalanan yang Iebih dari 12 jam. Untuk ikan konsumsi dilakukan pemberokan selama 1 - 2 jam.

d. Pengangkutan. Ikan nila konsumsi dapat diangkut dengan berbagai cara, tergantung tujuan pasar. Misalnya, pasar lokal, luar daerah, atau ekspor. Angkutan lokal biasanya menggunakan sistem basah, sedangkan untuk luar daerah yang jauh dan ekspor dilakukan dengan sistem kering.

Pada dasarnya, kegiatan transportasi ikan nila adalah “memaksa” menempatkan ikan dalam suatu lngkungan baru yang berlainan dengan lingkungan asalnya disertai perubahan-perubahan sifat lingkungari yang sangat mendadak. Transportasi ikan dapat menggunakan cara sistem basah dan kering.

A. Sistem Basah. Ikan diangkut di dalam wadah tertutup atau terbuka yang berisi air laut atau air tawar, tergantung jenis dan asal ikan. Pada pengangkutan dengan wadah tertentu, ikan nila di angkat di dalam wadah tertutup dan suplai oksigen diberikan secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan.

B. Sistem Kering. Transportasi ikan nila dengan sistem kering artinya memindahkan ikan hidup tanpa media air. Pertama-tama ikan dibuat masuk dalam kondisi tenang atau aktivitas respirasi dan metabolismenya rendah. Transportasi sistem kering ini biasanya menggunakan teknis pembiusan pada ikan (imotilisasi) terlebih dahulu sebelum dikemas.

Dalam praktik dilapangan, pascapanen ikan nila focus pada penanganan ikan hidup dan ikan segar yang telah mati. Ciri-ciri ikan nila segar antara lain memiliki warna cerah dan bersih, sisik melekat kuat serta mengilat (terlihat seperti ikan hidup), warna insan merah tidak pucat, daging tidak lembek dan apabila ditekan dengan jari terasa kenyal atau kembali seperti semula. 

Tabel. Ciri-ciri ikan nila segar bermutu tinggi dan bermutu rendah 
No
Para Meter
Ikan Segar Bermutu Tinggi
Ikan Segar Bermutu Rendah
1
Mata
Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih
Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea keruh
2
Insang
Warna merah cemerlang, tanpa lender
Warna kusam, dan berlendir
3
Lendir
Lapisan lender jernih, transparan, mengilat cerah, belum ada perubahan warna
Lendir berwarna kekuningan sampai coklat tebal, warna cerah hilang, pemutihan nyata
4
Daging dan perut
Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut dagingnya utuh, bau isi perut segar
Sayatan daging kusam, warna merah jelas sepanjang tulang belakang, dinding perut membubar, bau busuk
5
Bau
Segar, bau rumput laut, bau spesifik menurut jenis
Bau busuk
6
Konsistensi
Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang
Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang

Jika tidak tertangani dengan baik nilai produk yang dijual dapat dipastikan mengalami penurunan yang cukup tajam. Akibatnya harga jualnya tinggal setengah dari harga jual ikan hidup.

Jenis Kolam Yang Dipergunakan Dalam Budidaya Ikan Nila

Sebelum membuat kolam sebaikya  anda merencanakan berapa banyak indukan yang ingin di pelihara. Dengan begity anda dapat menghitung berapa banyak ikan yang dapat di tampung dalam satu kolam. 

Jenis jenis kolam yang digunakan dalam budidaya pembenihan ikan nila ini hampir sama dengan kolam yang digunakan dalam pembenihan ikan lele. Perbedaan yang mencolok antara budi daya pe,benihan ikan lele dan ikan nila adalah  pada manajemen pakan dan manajemen air.

Jenis kolam kolam yang umum dipergunakan dalam budi daya ikan nila antara lain sebagai berikut :

    #  Kolam Pemeliharaan induk / kolam pemijahan




kolam ini  berfungsi sebagai kolam pemijahan. Kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 100-50 m2 dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air berkisaran antara 22-20 °C. Kedalaman air 60-40 cm, dan dasar kolam sebainya berpasir.

   # Kolam Pemeliharaan Benih atau Kolam Pendederan



Luas kolam tidak lebih dari 100-500 m2. Kedalaman air kolam antara 50-30 cm, Kepadatan  50-5 ekor/m2. Lama pemelihara di dalam kolam pendederan atau ipukan antara tiga sampai empat minggu pada saat benih ikan berukuran 5-3 cm.

  # Kolam Pembesaran



Kolam pembesara berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Ada kalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran yaitu sebagai berikut.

  # Kolam Pembesaran Tahap Pertama

Kolam pembesaran tahap pertama berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendadaran. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 4-2 buah dengan luasmaksimum 500 - 200 m2/kolam. pembesaran kolam pertama ini tidak dianjurkan menggunakan kolam semen  sebab benih ini memerlukan ukuran ruang yang luas.  Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih Memasuki pembesaran pada tahap kedua atau langsung bisa di jual kepada pembudidaya.

  # Kolam Pembesaran tahap kedua 

Kolam pembesaran tahap kedua untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah apa sawah. Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1.5 -1.25 cm. Jumlah penebaran pembesaran tahap kedua sebainya tidak lebih dari 10 ekor/m2

  # Kolam pembesaran Tahap Ketiga

Kolam pembesaran tahap ketiga berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 100-80 cm dengan luas 2.000-500 m2.

Pembesaran Ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung berupa hapa berukuran  1x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75 -100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang di berokan dapat digunakan pula untuk pemeliharaan dan pemijahan ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah di perdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, di buat parit selebar 1-1,5 m dengan kedalaman 60 - 75 cm.


Pemannenan Hasil Budi Daya Ikan Nila

Panen merupakan suatu rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan dari budi daya yang dilakukan secara berurutan. Pemanenan dapat dilakukan setelah ada kepastian pemasaran. Panen juga dapat dilakukan setelah masa pemeliharaan atau pembesaran yang sudah berlangsung selama 4 - 6 bulan. Pada umumnya, ukuran ikan nila unggul mencapai berat antara 400 - 600 gram/ekor. 

Panen hendaknya dilakukan dengan cepat dan cermat supaya tidak menimbulkan stres pada ikan. Cara panen dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu panen total dan panen sebagian. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, tambak, sawah mina padi, atau pengangkatan keramba jaring apung, sehingga semua ikan nila yang ada di dalamnya dapat tertangkap.


Panen sebagian atau panen selektit dilaksanakan dengan cara memasang jaring atau jala dengan ukuran mata jaringnya tertentu tanpa pengeringan kolam. Panen selektif sering dilakukan untuk memanen ukuran ikan tertentu sesuai dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Panen selektif juga dapat bersifat penjarangan (mengurang kepadatan), Sehingga ikan yang tersisa akan tumbuh lebih cepat.
Panen ikan nila di kolam diawali dengan pengeringan air hingga ketinggian tinggal 10 cm. Selanjutnya, dibuat petak pemanenan atau petak penangkapan seluas 1 m2 di depan pintu pengeluaran. Selama panen, air segar perlu dialirkan ke dalam kolam untuk mencegah banyak ikan yang mati. Ikan yang berkumpul di bak-bak (kubangan) penangkapan atau dalam saluran dapat langsung diserok atau ditangkap.

Setelah panen selesai, kolam pemeliharaan dikeringkan dan dilakukan persiapan kembali untuk pemeliharaan berikutnya. Panen di Keramba Jaring Apung (KJA) dilakukan secara bertahap dengan cara mengumpulkan ikan nila pada salah satu sisi, yaitu dengan menarik salah satu sisi ke arah sisi lainnya. Panen ikan nila pada budi daya mina padi disesuaikan dengan pola tanaman padi. 

Kegiatan panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari saat cuaca belum panas menggunakan waring yang halus dan dikerjakan secara hati-hati dalam waktu yang cepat untuk menghindari luka pada ikan. Budi daya ikan nila unggul secara monokuftur di kolam rata-rata produksinya mencapai 25.000 kg/ha/panen, di Karamba Jaring Apung (KJA) mencapai 1.000 kg/unit (50 m2)/panen atau 200.000 kg/ha/panen, dan di tambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. 

Tempat penampungan hasil panen sebelum didistribusikan dapat berupa kolam tanah, kolam beton, atau Keramba jaring Apung (KJA). Hal penting yang perlu diperhatikan soal tempat penampungan hasl panen adalah air yang masuk sebaiknya masih segar. Di dalam kolam penampungan sebaiknya diberi perlakuan dengan desinfektan untuk menjaga kesehatan ikan nila.

Pengendalia Hama dan Penyakit Pada Ikan Nila

Ikan Nila termasuk jenis ikan yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Namun, kehadiran hama dan penyakit tetap perlu di waspadai. Berikut hama dan penyakit yang sering menyerang ikan nila :


a. Hama
Hama merupakan organisme pengganggu yang dapat rnemangsa, membunuh, dan memengaruhi produktifitas, baik secara langsung maupun bertahap. Hama dapat berasal dan aliran air masuk, udara, atau dari darat. Hama penting yang sering menyerang ikan nila antara lain:
  • Bebeasan (Notonecta). Hama ini berbahaya bagi benih ikan nila karena sengatannya. Pengendalian bebeasan dapat dilakukan dengan cara menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/ 100 m2
  • Ucrit (Larva cybister). Ucrit sering menjepit badan ikan nila dengan taringnya hingga robek. Pengendalian ucrit dapat dilakukan dengan cara menghindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam atau wadah budi daya. 
  • Kodok. Kodok biasanya memakan telur-telur ikan nila. Pengendalian kodok dapat dilakukan dengan cara membuang telur ikan yang mengapung. Selain itu, Anda juga dapat menangkap dan membuang kodok yang masuk ke dalam kolam. 
  • Ular. Ular pada umumnya menyerang benih atau ikan kecil. Pengendalian ular dapat dilakukan dengan cara penangkapan ular dan pemagaran kolam.
  • Lingsang. Lingsang gemar memakan ikan dan banyak muncul pada malam hari Pengendalian lingsang dapat dilakukan dengan cara memasang jebakan berumpun.
  • Burung. Burung pada umumnya memakan benih ikan nila merah Pengendalian burung dapat dilakukan dengan cara diberi penghalang bambu supaya sulit menerkam atau diberi rubai - rubai dan tali penghalang.
b. Penyakit
Penyakit pada nila dapat disebabkan karena adanya gangguan dari jasad hidup atau sering disebut penyakit parasiter dan juga non-parasiter. Faktor fisik dan tingkat kandungan kimia dalam perairan sangat berpengaruh. Jasad hidup yang menyebabkan penyakit adalah jamur, bakteri, protozoa, nematoda, dan jenis udang renik.

Penyebaran penyakit dan satu ikan ke ikan lainnya dapat melalui aliran air yang masuk ke kolam, media hidup ikan, kontak Iangsung antara ikan yang sakit dan yang sehat, kontak tidak langsung melalui peralatan yang terkontaminasi, seperti selang air, gayung, ember, dan sebagainya, dan perantara atau pembawa penyakit. Penyakit yang sering menyerang ikan nila antara lain:
  • Penyakit pada kulit. Gejala serangan pada bagian tertentu menyebabkan kulit berubah warna dan tubuh berlendir. Pengendalian penyakit kulit dapat dilakukan dengan cara direndam dalam larutan PK (Kalium Permanganat) dengan dosis 2 gram/10 liter air selama 30 - 60 menit. Pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. Selain itu, penanganan penyakit juga dapat dilakukan dengan merendarn ikan di dalam Negovon dengan dosis 2 - 3,5% selama 3 menit.
  • Penyakit pada insang. Gejala serangan menunjukkan tutup insang bengkak dan lembar insang menjadi pucat atau keputihan. Pengendalian penyakit dapat dilakukan seperti pada pengendalian penyakit kulit.
  • Penyakit pada organ dalam. Gejala serangan menunjukkan perut ikan bengkak, sisik berdiri, dan tidak gesit. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan seperti pada penyakit kulit.
Secara umum, hal-hal yang perlu dilakukan untuk pengendalian hama dan penyakit pada budi daya ikan nila unggul adalah:
a. Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
b. Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
c. Hindari penebaran ikan secara berlebihan dan melebihi kapasitas.
d. Pemasangan sistem penyaluran air yang ideal yaitu paralel, tiap kolam diberi satu pintu penyaluran air.
e. Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
f. Penanganan saat panen atau pemindahan benih dilakukan secara hati-hati dan sesuai langkah yang dianjurkan.
g. Menghalau binatang seperti burung, siput, ikan seribu (Lebistus reticulatus Peters) sebagai pembawa penyakit.
h. Penambahan bahan kimia ke dalam air. Cara ini dilakukan dengan merendam ikan nila yang sakit ke dalam air yang telah diberi larutan senyawa kimia. Setelah direndam beberapa saat, ikan nila dikembalikan ke kolam. Selain itu, daat juga dengan menambahkan larutan senyawa kimia ke air kolam secara Iangsung.
i. Penambahan bahan kimia ke dalam pakan. Prinsip pengobatan dengan cara ini adalah dengan mencampurkan obat ke dalam pakan. Tujuannya, untuk membunuh organisme penyebab penyakit dan meingkatkan daya tahan tubuhikan.

Cara Membedakan Indukan Nila Jantan dan Indukan Nila Betina


Didalam budidaya ikan nila ada beberapa faktor penentu, salah satunya adalah dalam pemilihan indukan ikan nila itu sendiri.

Indukan nila yang baik akan menghasilkan benih yang berkualitas dan memberikan nilai eonomi yang memuaskan. baca juga Mengenal Ikan Nila

Adapun ciri ciri indukan nila yang baik dan ungul

           # Mampu memproduksi benih

           # Pertumbuhannya sagat cepat

           # Sangat reponsif terhadap makanan buatan yang diberikan

           # Resisten terhadap serangan hama

           # Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan

           # Ukuran Induk Yang baik untuk di pijahkan yaitu 180-120 gram lebih per ekor dan berumur empat sampai lima bulan

baca juga : Jenis - Jenis (Strain) Ikan Nila Unggul

Adapun ciri ciri untuk membedakan indukan nila jantan dengan indukan nila betina adalah sebagi berikut

  # Nila Betina

             # Terdapat tiga buah lubang pada  urogenetial yaitu dubur, lubang pengeluaran telur, dan lubang urine.

             # Ujung pada sirip berwarna kemerah merahan pucat tidak jelas.

             # Warna perut lebih putih
 
             # Warna Dagu putih

             # Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.

   # Nila Jantan

             #  Pada alat urogenetial terdapat dua buah lubang, yaitu anus dan lubang sperma merangkap lubang urine.

             # Ujing sirip berwarna kemerah merahan terang dan jelas

             # Warna perut lebih gelap / kehitam hitaman

             # Warna dagu kehitam hitaman dan kemerah merahan

             # Jika perut distriping mengeluarkan cairan

Indukan ikan nila berkualitas bagus dibutuhkan saat pemijahan ikan nila. indukan nila sebainya memiliki asal usul yang jelas terutama jenisnya atau strain.

Teknik Jitu Pemijahan Ikan Nila

Proses perkawinan induk jantan dan betina sampai menghasilkan larva disebut pemijahan. Nila jantan akan membuat sarang pada dasar kolam, kemudian akan mengundang betina bertelur pada sarang itu. Ketika telur telur ini keluar, nila jantan akan membuahi dengan cara menyemprotkan cairan jantannya ke telur telur itu.

Setelah telur telur itu dibuahi sijantan. maka betina kembali menyimpan kedalam mulutnya.


Dalam beberapa hari saja telur telur ituakan menetas. Ketika telur telur menetas maka ini disebut larva. Lrva adalah anak ikan yang berumur satu sampai lima hari.

Pada usia ini nila betina akan menjaga anak anak ikan tersebut dengan menyimpan dan mengamankan dalam mulutnya.

Biasanya induk nila akan memasukkan ke dalam mulutnya jika dalam keadaan tidak aman, kemudian memutahkan kembali jika di sekitar nya sudah aman.

Baca Juga :Perawatan Benih Nila Yang Baik Dan Benar

Selama beberapa hari indukan nila akan terus menjaga anak anak nya masuk - keluar dalam mulutnya. Pada usia empat sampai lima hari, larva ini mulai terbentuk seperti ikan dewasa dan pada usia ini, iduk akan membiarkan anak anaknya untuk mencari makan sendiri.

Setelah anak anak nila di biarkan oleh induknya anak anak ikan ini akan macari makan dan bergerombol kemanapoun mereka pergi, seolah oleh ada salah satu pemimpinnya. Dan anak anak nila dari indukan lain melakukan hal yang sama pula. Pada saat anak anak nila bergerombol mencari makan di tepi kolam lakukan penangkapan larva dengan jarinf kelambu, lau pindahkan ke penampungan khusus.

Baca Juga :Prospek Budi Daya Ikan Nila

Larva ini di tampung di kolam beton yang berukuran kecil atau di tampung di hapa untuk dipelihara sampai menjadi benihyang kemudian siap untuk pembesaran.

Pemisahan Larva dari ikan ikan besar bertujuan juga untuk pemberian pakan halus dan pemantauan pertumbuhan anak ikan menjadi bibit ikan dalam sebulan kemudian.

Baca juga: Tata Cara Pembenihan Ikan Nila

Induk induk nila tetep pada kolam yang sama untuk melanjutkan proses produksi larva. Induk induk yang memproduksi larva ini sebaiknya enam kali saja, atau palng lama satu tahun, kemudian ddiganti dengan induk yang baru.

Sarana Produksi dan Teknologi Pembenihan Ikan Nila

Sarana produksi sebagai bahan baku dalam usaha pembenihan meliputi induk dan makanan (pakan). Persyaratan yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan sarana produksi sebagai berikut :

a. Induk. Nila unggul mulai dapat dijadikan induk ketika sudah memiliki bobot ± 0,4 kg, baik induk betina maupun jantan. Perbandingan antara populasi induk jantan dan betina untuk dikawinkan adalah 1 : 3. Pada umumnya, 1 paket induk ikan nila unggul berjumlah 400 ekor ikan yang terdiri atas 300 ekor induk nila betina dan 100 ekor induk jantan.

b. Makanan (Pakan). Pakan diperlukan untuk perawatan induk ikan nila unggul. Persyaratan pakan :
  • Pakan yang diberikan berupa pelet yang memiliki kadar protein antara 28 - 35% dengan kandungan lemak tidak Iebih dan 3%.
  • Banyaknya pelet sebagai pakan induk berkisar l - 3% berat biomassa per hari. Dalam praktik di lapangan, banyaknya pakan pelet berkisar antara 0,1 - 1% berat biomassa per hari tergantung tahapan kegiatan pembenihan yang sedang dilakukan dan ketersediaan pakan alami. Berat biomassa diketahui dengan pengambilan sampel 10 ekor ikan nila. Sampel tersebut ditimbang dan dicari rata-rata beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di kolam. Contoh, berat rata-rata ikan 220 gram dengan jumlah ikan 90 ekor, maka berat biomassa 220 x 90 = 19 800 gram. Jumlah ransum per hari 3% x 19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2 - 3 kali sehari. 
  • Pemberian vitamin E dan C yang berasal taoge atau bahan lain berupa daun-daunan atau sayuran yang diiris-iris untuk pembentukan telur ikan selama pemeliharaan induk.
  • Dedak halus dan bekatul dapat diberikan sebagai pakan. Bahan pakan tersebut dapat menambah kesuburan kolam Penambahan pakan alami di kolam dilakukan dengan cara menggantungkan karung pupuk di bagian tertentu pada kolam dengan terlebih dahulu melubanginya. Cara ini bertujuan supaya pembusukan yang berlangsung di dalam karung tidak mengganggu kualitas air. Dalam beberapa hari berselang, biasanya di sekitar karung akan tumbuh plankton.
Dalam memproduksi benih ikan nila unggul diperlukan penerapan teknologi yang tepat guna. Pertumbuhan ikan nila unggul jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda. Ikan nila jantan 40% Iebih cepat tumbuh daripada nila betina. Jika sudah mencapai ukuran 200 gram, pertumbuhan nila betina semakin lambat, sedangkan nila jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala saat memproyeksikan produksi.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan budi daya ikan nila unggul secara tunggal kelamin (monosex culture), yaitu hanya ikan jantan saja yang dipelihara hingga mencapai ukuran konsumsi. Teknologi memproduksi benih jantan (maskulin/sasi) dengan rangsangan hormon merupakan suatu proses pembentukan jenis kelamin jantan. Saat masih berbentuk larva atau berumur 7 - 19 hari, nila dirangsang dengan hormon Metil Testosterone (MT) untuk membentuk jenis kelamin jantan. Maskulinisasi dapat dilakukan 2 cara, yaitu rangsangan hormon melalui perendaman dan perlakuan pakan berhormon.

Melalui cara perendaman, hormon dilarutkan dalam air dengan dosis 5 - 10 mg/l air + 2,5 ppt dimetilsulphoxide. Selanjutnya, larva ikan berumur 7 hari (burayak) direndam dalam larutan tersebut. Pemberian pakan berhormon diawali dengan pemilihan induk jantan dan betina. Induk jantan yang digunakan berukuran ± 200 g/ekor (± umur 4 bulan) sebanyak 6 ekor, sedangkan induk betina berukuran ± 150 g/ekor (± umur 4 bulan) sebanyak 18 ekor. 

Induk ikan nila unggul ditebar di dalam kolam pemijahan dengan perbandingan 1: 3 (1 ekor jantan dan 3 ekor betina). Dalam kolam pemijahan dibutuhkan ± 3 petakan kolam. Pada tiap petakan diletakkan 2 - 3 buah pen (pagar, kalasey) untuk pemijahan induk. Sebelum hormon ditambahkan ke dalam pakan, terlebih dahulu dilarutkan dalam alkohol. Volume alkohol disesuaikan dengan dosis hormon, misalnya 70% dan 95%. 

Hormon metil testosterone ditakar sebanyak 15 mg (± 1/8 bagian sendok teh). Volume alkohol 70% terdiri atas 15 mg MT : 9 ml alkohol (± ½ strip batang korek api). Volume alkohol 95% terdiri atas 15 mg hormon MT: 7,5 ml alkohol. Alkohol diukur dalam gelas minum biasa. Larutan hormon-alkohol tersebut dituangkan dalam pakan atau pelet yang sudah dihaluskan terlebih dahulu sedikit demi sedikit. 

Sebagai patokan dasar, pelet yang dibutuhkan sebanyak 1 kg/dosis hormon, sehingga dosis hormon MT dalam pakan menjadi 15 mg hormon MT dalam 1 kg pelet halus. Adonan tersebut diangin-anginkan sampai betul-betul kering dan bau alkohol hilang. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam kantong plastik tertutup dan dapat disimpan selama 2 bulan. 

Setelah induk betina mulai melepaskan larva ke luar dari mulut (rnulai 7. hari, maka larva-larva tersebut dapat segera ditangkap dipelihara dalam kolam pendederan. Selanjutnya, pakan berhormon diberikan selama ± 1 bulan pemeliharaan larva sebanyak 10% dari berat total larva. Stelah kurun waktu tersebut, larva atau benih telah terbentuk jenis kelaminnya hingga penggunaan yang lalu lama tidak memengarui pembentukan jenis kelamin bahkan dapat membahayakan jika digunakan terus untuk pembesaran ikan (ikan konsumsi). Dari hasil penelitian BPTP sulut menunjukkan bahwa persentasi benih jantan yang terbentuk mencapai 93% dengan tingkat kematian benih rata-rata 10%.

Analisa Usaha Pembesaran Ikan Nila


Pembesaran nia mulai dari benih berumur dua bulan (ukuran jempol) sampai nila berkurang 4-5 kg/ ekor selama 4 bulan. perhitungan yang digunakan dalam usah pembesaran nila sebagai berikut.

        # Luas kolam 1000m2 merupakan lahan sewa.

        #  Benih yang akan disebarkan sebanyak 60.000 ekor.

        # Jumlah tenaga kerja tiga orang. Rp 2.000.000/bulan/orang.

        # Pembesaran ini selama 4 bulan berukuran 200-300 gram/ekor.

        # total produksi  nila konsumsi yang di panen  kurang lebih 10 ton


v   Biaya Sarana Pembesaran

Kolam 1000 meter persegi selama 4 bulan                  : Rp. 4000.000

Benih nila 60.000 ekor @.300                                    : Rp 18.000.000

Alat Perikanan                                                          : Rp. 2.000.000  +

Total                                                                         : Rp 24.000.00

v   Biaya Opersional

Pakan buatan sendiri 4 bulan @ Rp15.000.000      : Rp 60.000.000

Tenaga Kerja 3 Orang                                             : Rp 6.000.000

Obat Obatan Dan Keperluan Lain                          : Rp 10.000.000 +

Total                                                                       : Rp 76.000.000

v   Biaya Pengeluaran Keseluruhan 

Total Pengeluaran             = Biaya Sarana Pembesaran + Biaya Operasional

                                            = Rp 24.000.000 + Rp 76.000.000

                                            = Rp 100.000.000
v   Pendapatan 

Pendapatan                       = Total Produksi x Harga Jual

                                            =  10.000 kg x Rp 25.000/kg

                                            =  Rp 250.000.000 

v   Keuntungan

Keuntungan                        = Pendapatan - Total pengeluran

                                            = Rp250.000 kg - Rp 1000.000.000

                                            = Rp 150.000.000 

v   Break Event Point ( BEP) dalam Satu Harga per Ekor

BEP (kembalinya modal) dalam saruan harga per ekor sebagai berikut.

BEP                                     = Total Modal dibagi Total Produksi

                                            = 100.000.000 : Rp 10.000

                                            = Rp 10.000 

Berdasarkan perhitungan tersebut, diketahui bahwa kembalinya modal pada harga nila
sebesar Rp 10.000/kg dari Rp 25.000/kg

v   Break Event Point ( BEP) dalam Satu Produksi

BEP (kembalinya modal) dalam saruan produksi sebagai berikut.

BEP                                     = Total Modal dibagi Harga Jual Nila

                                            = 100.000.000 : Rp25.000

                                            = Rp 4.000 

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diketahui bahwa kembalinya modal dalam satuan
produksi sebesar Rp 4.000/kg.

v   Revenue Cost Ratio (R/C rotio) 

RC Rstion adalah perbandingan pendapatan dan pengeluaran

RC Ration                                     = Pendapat            
             
                                                      = Rp 250.000.000/Rp 100.000.000                                                                                                
                                                      = 2.5

 Nilai RC ration sebesar 2.5menunjukan usaha pembesaran nila sangart menguntungkan jika dilakukan. Dari setiap  Rp100.000.000 modalyang dikeluarkan, menghasilkan pendapatan sebesar Rp 250.000.000.
Perkiraan pendapatan ini adalah  perkiraan kasar, bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung dari pengolahan dan keuletan pengusaha. Perhitungan ini sebagai gambaran bidang usaha pembesaran saja tapi juga bisa untuk usaha lain sebagai contoh dalam menghitung rencana usaha.

Fasilitas dan Peralatan Pembenihan Ikan Nila

Tempat pembenihan nila unggul dapat berupa kolam atau bak, keramba dan kolam sawah (mina ikan). Wadah pemeliharaan di kolam, bak atau karamba berbentuk empat persegi panjang atau  bujur sangkar, relatif luas, cukup dalam, dan tertutup. Luas kolam menyesuaikan dengan tingkat kepadatan ikan yang merupakan variable dari umur dan jumlah populasi, yaitu semakin besar ikan semakin banyak populasinya, maka memerlukan kolam yang lebih luas.

Kedalaman kolam antara 100 - 150 cm dengan ketinggian muka air antara 70 - 100 cm sesuai kebutuhan. Dasar kolam dibuat miring dari sisi air masuk ke arah sisi air ke luar dengan kemiringan 0,51%. Ditengah kolam dibuat saluran (caren) yang melebar mendekati pintu air ke luar untuk penangkapan beníh (saat panen). Jika melakukan pembenihan di kolam, diperlukan beberapa jenis kolam dengan peruntukan yang berbeda.



Secara keseluruhan, unit pembenihan dinamai dengan Unit Kolam pembenihan (UKP) dengan rincian kolam sebagai berikut :
  • Dua unit kolam induk untuk memberok atau memisahkan ,antara ikan jantan dan betina sebelum dan sesudah perkawinan (pemijahan). 
  • Satu unit kolam pemijahan sebagai tempat mengawinkan ikan jantan dengan betina. 
  • Satu unit kolam pendederan I. Luas kolam ini disesuaikan dengan slandar kepadatan populasi ikan. Kolam ini berfungsi sebagai empat untuk membesarkan larva atau anak ikan yang baru ke luar dari telur hingga anak ikan berukuran 3, 5, dan 8 cm gelondong kecil, per kg terdiri atas 60 - 80 ekor anak ikan). Ikan dengan ukuran tersebut berada di kolam pendederan I selama kurang lebih 1,5 - 2 bulan pemeliharaan. Kolam pendederan I ini disekat menggunakan jaring atau hapa yang dapat digeser supaya memudahkan pemisahan atara anak ikan yang baru ke luar dan telur dengan anak ikan yang sudah sedikit besar (dikelompokkan per 5 - 10 hari pengambilan berturut-turut) guna menghindari terjadinya kompetisi bahkannkanibalisme.
  • Satu unit kolam pendederan II. Kolam ini berfungsi untuk membesarkan benih hingga ukura 8 - 12 cm (gelondong besar, per kg terdiri atas < 60 ekor anak ikan). Kolam pendederan Il memerlukan luas yang memadai. Biasanya, kolam pedederan II dibuat dengan meminjam kolam atau sawah milik petani secara kerjasama.
Peralatan yang diperlukan saat pembenihan dapat dipilah menurut tahap-tahap kegiatan usaha sebagai berikut : 
  • Pada tahap kegiatan pemijahan, penetasan, dan pemeliharaan larva, diperlukan peralatan yang meliputi alat pengukuran kualitas air dan thermometer. Selain tu, siapkan peralatan lapangan seperti ember, baskom, gayung, selang plastik, saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi, dan instalasinya.
  • Pada tahap kegiatan pendederan dan pemanenan diperlukan peralatan berupa thermometer, ember, baskom, saringan, serok, waring, cangkul, hapa penampung benih, dan timbangan. Pada tahap pengiriman benih diperlukan peralatan berupa plastik untuk pengemasan, oksigen, karet gelang, dan box atau kardus apabila diperlukan.